Niat buka HP sebentar, ternyata ada berita buruk. Kemudian kamu terpacu mencari update dari satu konten ke konten lainnya, hingga sadar waktu sudah berlalu cukup lama.
Dan benar, kamu baru saja melakukan doomscrolling.
Sebelum kamu mengetahui bagaimana cara mengatasi doomscrolling, artikel ini akan membahas apa itu doomscrolling, penyebab doomscrolling sulit berhenti, dan bagaimana efek doomscrolling pada seseorang.
Doomscrolling adalah kebiasaan mengonsumsi berita atau konten negatif secara terus-menerus, bahkan ketika hal tersebut mulai membuat cemas, lelah, bahkan stres.
Beberapa situasi yang cukup familiar, misalnya:
- Baru membuka mata dari tidur, kamu langsung membuka Instagram untuk melihat story teman-temanmu. Setelah itu, kamu menemukan berita negatif dan terus berpindah dari satu konten ke konten lainnya.
- Ketika ada berita konflik yang terjadi di KRL, misalnya, kamu terus cari update terbaru di X. Kamu membuka banyak akun meskipun informasi yang diberikan repetitif.
- Atau, kamu ingin melihat video yang sedang ramai tentang kasus kriminal. Setelah menonton videonya, kamu buka kolom komentar, mencari berita terkait, hingga akhirnya merasa cemas tetapi tetap melanjutkan scrolling.
Jika pola-pola di atas terus berulang, bisa jadi kamu sedang terjebak dalam kebiasaan doomscrolling.
Kenapa Kita Bisa Terjebak dalam Doomscrolling?
Setelah mengetahui apa itu doomscrolling, berikut beberapa penyebabnya:
Pertama, manusia cenderung memiliki negativity bias, yaitu kecenderungan untuk memberikan respons yang lebih kuat terhadap informasi negatif dibandingkan informasi positif. Penelitian Soroka dkk., (2019) dalam jurnal Cross-national evidence of a negativity bias in psychophysiological reactions to news, menunjukkan bahwa manusia rata-rata memberikan respons fisiologis yang lebih kuat terhadap berita negatif. Kecenderungan ini dapat membuat menjelaskan mengapa konten negatif lebih mudah menarik perhatian, meskipun bukan satu-satunya alasan seseorang melakukan doomscrolling.
Kedua, algortima sosial media terus menampilkan konten guna mendorong user untuk berinteraksi. Konten yang memicu emosi atau rasa penasaran itulah yang membuat seseorang akan melihat konten selanjutnya.
Ketiga, dorongan untuk terus mengikuti perkembangan terbaru juga bisa membuat seseorang merasa perlu memeriksa media sosial agar tidak tertinggal informasi.
Apa Dampak Doomscrolling Jika Terus Dilakukan?
Jika terus dilakukan, doomscrolling tentunya bisa menganggu rutinitas sehari-hari. Waktu yang seharusnya digunakan untuk aktivitas lainnya justru dihabiskan untuk scrolling.
Kebiasaan ini juga dapat memengaruhi kondisi emosional. Paparan berulanh terhadap isu atau berita negatif dapat membuat seseorang merasa lelah, kewalahan, atau semakin khawatir terhadap hal tersebut. Seperti yang dijelaskan oleh Gurr (2022) dalam artikel Does Fatigue from Ongoing News Issues Harm News Media? Assessing Reciprocal Relationships Between Audience Issue Fatigue and News Media Evaluations, seseorang dapat mengalami issue fatigue, yaitu kelelahan atau kejenuhan audiens akibat paparan berulang terhadap isu yang terus diberitakan.
Dikarenakan kebiasaan sering dilakukan saat sedang bersantai atau menjelang tidur, doomscrolling dapat membuat waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat terpakai untuk terus melihat konten negatif.
Lalu, Kenapa Doomscrolling Sulit Dihentikan?
Meskipun menyadari bahwa scrolling sudah terlalu lama, sebagian orang tetap merasa sulit untuk berhenti. Mengapa?
Doomscrolling dapat berkembang menjadi kebiasaan yang dilakukan secara otomatis dan berulang. Seseorang dapat terdorong untuk memeriksa atau membuka media sosial ketika dapat notifikasi, merasa bosan, memiliki waktu senggang, atau sekedar mencari infromasi tentang sesuatu yang tidak pasti.
Selain itu, scrolling media sosial tidak memiliki titik ujung. Berbeda dengan membaca buku atau menonton satu video yang memiliki akhir, timeline media sosial tidak demikian. Akibatnya, selalu ada alasan untuk melanjutkan scrolling.
Rasa penasaran juga dapat membuat kebiasaan ini semakin sulit dihentikan saat adanya konflik di media sosial. Seseorang mungkin akan mencari tahu kelanjutan masalah tersebut dari satu unggahan ke unggahan lainnya. Meskipun infromasi yang diperoleh pada akhirnya repetitif.
Kombinasi berbagai faktor tersebut dapat membuat doomscrolling terrasa seperti kebiasaan otomatis yang sulit diputus.
Bagaimana Cara Mengatasi Doomscrolling?
Ketika penyebab di atas sudah terbentuk, maka kamu harus mengetahui bagaimana cara mengatasi doomscrolling dengan tepat. Langkah untuk mengatasinya tidak hanya tentang memaksa diri. Namun, perlu kenali pemicu dan ciptakan batasan agar kebiasaan tersebut mudah dikendalikan.
Kenali trigger atau pola
Doomscrolling dapat dimulai tanpa disadari. Oleh karena itu, coba perhatikan kapan dan kondisi apa yang memicu untuk scrolling.
Apakah setelah bangun tidur? Sedang menunggu? Saat merasa bosan? Atau setelah melihat berita yang membuat penasaran?
Dengan mengenali pola tersebut, kamu dapat menyadari doomscrolling yang mulai datang.
Buat stopping point
Ketika scrolling tidak berujung, buatlah stopping point sendiri.
Pada langkah cara mengatasi doomscrolling ini, kamu harus menentukan batas yang jelas, misalnya set durasi tertentu atau jumlah informasi yang ingin dibaca. Atau bahkan, gunakan fitur pengingat waktu pad alayar ponsel untuk membantu mengingatkan ketika batas sudah tercapai.
Kurangi trigger
Jika notifikasi menjadi salah satu pemicu untuk terus memeriksa media sosial, maka kurangi gangguan tersebut.
Kamu dapat menonaktifkan notifikasi berita atau aplikasi media sosial tertentu sehingga tidak terus terdorong untuk membuka ponsel di tengah aktivitas lain.
Tentukan batas konsumsi berita
Tidak semua perkembangan berita harus diikuti terus-menerus. Di rasa penasaran yang berlebih ini dapat membuat penyebab doomscrolling muncul.
Tentukan waktu tertentu untuk memeriksa berita daripada terus memantau update sepanjang hari. Jika kamu sedang mengikuti suatu isu, misalnya, pilihlah sumber yang kredibel dan tentukan waktu kapan kamu berhenti mencari informasi tambahan.
Dengan begitu, kamu tidak perlu memeriksa semua unggahan hanya untuk mendapatkan update yang sebenarnya kamu sudah ketahui.
Ciptakan friction
Ciptakan friction berarti membuat sedikit hambatan sebelum kamu dapat membuka aplikasi yang sering digunakan untuk doomscrolling.
Contohnya, pindahkan aplikasi media sosial ke dalam folder yang tidak berada di layar utama. Dengan begitu, kamu membutuhkan beberapa langkah tambahan sebelum membukanya.
Tujuannya bukan membuat penggunaan aplikasi menajdi sulit, tetapi memberi jeda agar kamu sadar apakah benar-benar ingin membukanya atau hanya melakukan tanpa sengaja.
Lakukan aktivitas pengganti
Ketika sudah mengenali waktu atau situasi yang memicu doomscrolling, siapkan aktivitas lain sebagai pengganti.
Kesimpulan
Dari langkah bagaimana cara mengatasi doomscrolling berlebih di atas, satu hal yang perlu diketahui. Tidak semua informasi, terutama di media sosial, perlu diikuti hingga tuntas. Banyak berita yang dapat ditunggu atau dibaca ringkasannya nanti, tanpa harus memantau layar hp 24/7 agar terlihat up-to-date.
Yang perlu disadari adalah penggunaan media sosial sangatlah bermanfaat. Namun, ada kalanya ketahui pula waktu scrolling berubah menjadi kebiasaan buruk. Jika sadar terjebak dalam situasi tersebut, kamu dapat memulai langkah-langkah di atas agar kapan tahu harus berhenti.
Mulailah dari satu atau dua kebiasaan terlebih dahulu. Tidak perlu terburu-buru dalam satu waktu. Maka, kamu akan memilki hari indah yang baru.


